Wednesday, February 1, 2012

Badai Matahari 2012 Di Indonesia Heboh

[imagetag]
Badai matahari terbesar dalam siklusnya yang ke-24 telah terjadi pada Senin, 23 Januari 2012. Meski dampaknya tergolong kecil, masih berlangsung di Indonesia.

Menurut peneliti matahari dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Bandung, Clara Yono Yatini, badai matahari yang terjadi Senin sore, 23 Januari 2012, termasuk tipe II. "Tipe itu menandakan adanya gelombang kejut karena ada partikel matahari yang meloncat," katanya, Rabu, 25 Januari 2012.

Badai Matahari 2012 Di Indonesia
Dari hasil pengamatan Lapan, dampak badai itu sudah sampai ke Bumi dan terasa di Indonesia. "Lapisan ionosfera terganggu sehingga menimbulkan gangguan komunikasi radio pada 23 Januari sore," ujarnya.

Dampak badai matahari itu ada yang langsung ke bumi pada hari terjadi, juga tidak langsung, yaitu selama satu hingga empat hari. Gangguan pada lapisan ionosfera itu, kata Clara, bisa berdampak pada kerja satelit dan sinyal telepon seluler. "Sejauh ini kami belum mendapat laporan gangguan dari masyarakat dan operator seluler," katanya.

Lapan juga masih terus memantau kondisi matahari yang aktivitasnya kini menuju masa puncak badai matahari pada 2013 mendatang. Lapan, kata Clara, juga tengah menyiapkan peringatan dini ke pemerintah dan masyarakat terkait badai matahari dan dampaknya.

Badai Matahari Bakal Meningkat Tapi Tak Pengaruhi Cuaca

Aktivitas badai matahari belakangan ini sedang meningkat. Maklum, matahari sedang menuju puncak masa aktifnya pada 2013. Tapi aktivitas matahari ini tidak akan mempengaruhi keadaan cuaca di Bumi.

"Pada 28 Januari dini hari, sekitar pukul 01.37 WIB, terjadi badai matahari yang cukup kuat, kelas X1,7 dan kira-kira lebih kuat 1.000 kali daripada badai matahari pada 23 Januari lalu," kata Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (30/1/2012).

Beredar kabar badai matahari ini akan mempengaruhi kondisi cuaca di Bumi, namun Djamaluddin menampiknya. Dia menegaskan badai matahari hanya mempengaruhi lingkungan antariksa.

"Tidak mempengaruhi kondisi cuaca di Bumi. Kondisi cuaca di Bumi karena dinamika atmosfer lokal dan regional," jelas alumnus Universitas Kyoto, Jepang, ini.

Dia menambahkan badai matahari pada 28 Januari lalu terjadi di tepi piringan matahari, sehingga semburan partikel-partikelnya tidak mengarah ke Bumi. Karena itu posisi Bumi aman. Saat ini keadaan matahari relatif tenang, namun pada beberapa hari atau pekan mendatang kemungkinan badai matahari masih bisa terjadi.

"Kekuatannya bisa lebih kuat juga, tapi harus diwaspadai dari segi frekuensi. Sekarang akan meningkat, karena menuju puncak masa aktif pada 2013. Dari intensitas kekuatan juga ada peluang makin kuat," papar Djamaluddin.

Jika aktivitas matahari menguat dan mengarah ke Bumi maka akan berpengaruh pada operasional satelit dan mengganggu komunikasi radio. Namun tidak akan ada dampak langsungnya pada manusia. Yang cukup berbahaya saat badai matahari terjadi adalah ketika astronot berada di laboratorium antariksa. Maka itu ketika peristiwa itu terjadi, astronot diminta masuk ke ruang yang aman. Badai matahari juga bisa mengancam penumpang pesawat yang melintasi wilayah kutub utara, karenanya pesawat lintas kutub utara dialihkan jalurnya hingga badai matahari selesai.

Cuaca Buruk Tak Terkait Badai Matahari

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menegaskan cuaca ekstrim dan angin kencang yang terjadi belakangan ini tidak terkait dengan badai matahari yang masih terjadi saat ini.

"Tidak ada pengaruhnya. Cuaca yang berubah-ubah dan angin kencang ini lebih karena musim penghujan dan posisi matahari," kata Sutopo dalam pesan singkat, Minggu malam 29 Januari 2012.

Dia menjelaskan posisi matahari saat ini ada di bagian selatan dan siklon tropis pun terkumpul di sana. "Sehingga berpengaruh terhadap cuaca di Indonesia," jelasnya.

Sebelumnya, BNPB mencatat 35 kabupaten/kota di Jawa dan Bali terkena puting beliung dalam empat hari terakhir, yakni 25-29 Januari 2012. BNPB juga mencatat 14 orang meninggal dunia, 60 orang luka-luka dan 2.364 rumah rusak. 14 korban meninggal akibat kejatuhan pohon tumbang, yaitu 3 orang di Tabanan, 3 orang di Purbalingga, 2 orang di Kediri, 2 orang di Banyumas.

Sedangkan di Jakarta Selatan, Wonosobo, Ciamis, dan Pasuruan masing-masing seorang. Berdasarkan jumlah kerusakan rumah yang terparah terjadi Kepulauan Seribu, Banyumas, Banjarnegara dan Situbondo.

Sutopo melanjutkan, kerusakan rumah yang disebabkan bencana puting beliung bervariasi. Dari rusak ringan hingga roboh. Umumnya kerusakan karena terkena pohon roboh dan atap rumah yang terangkat oleh angin.

"Kejadian puting beliung yang masif tersebut sangat dipengaruhi adanya siklon tropis Iggy di selatan Nusa Tenggara dan Bali," jelasnya. Saat ini, kata Sutopo, siklon tropis Iggy sudah makin melemah dan menjauhi wilayah Indonesia.

sumber: Badai Matahari 2012 Di Indonesia Heboh - Forum Indonesia, forumkami.net

grobakz 01 Feb, 2012

Admin 01 Feb, 2012


-
Source: http://kamar-asik.blogspot.com/2012/02/badai-matahari-2012-di-indonesia-heboh.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

No comments:

Post a Comment