Tuesday, February 7, 2012

Raksasa Batu Bara Incar Kaltim

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!
Quote:

SAMARINDA – Pembangunan rel kereta api diiringi sejumlah infrastruktur di Kalimantan diduga kuat bertujuan mengeruk kekayaan alam belaka. Sebuah perusahaan tambang raksasa dari London, Inggris, ditengarai segera mewujudkannya dengan menancapkan cakar investasi di Kalteng dan Kaltim.

Tak tanggung-tanggung, konsesi kuasa modal bernama BHP Billiton itu mencapai 355 ribu hektare. Itu sama dengan tiga kali konsesi Kaltim Prima Coal (KPC) yang sekitar 90 ribu hektare. Sebagai perbandingan pula, 355 ribu hektare tadi sepadan dengan lima kali luas Samarinda.

Informasi itu disiarkan organisasi nonpemerintah dari London, Inggris, yakni London Mining Network (LMN) yang berafiliasi dengan Down To Earth (DTE). Lembaga tersebut bekerja sama dengan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Indonesia. Sejak beberapa tahun, DTE dan LMN men-tracking penanaman modal perusahaan Inggris di Australia dan Indonesia.

Menurut Andrew Hickman dari DTE, BHP Billiton dalam laporan tahunannya menyebut, memegang tujuh konsesi pertambangan batu bara yang dikeluarkan pemerintah pusat. Tiga di antaranya di Kutai Barat (Kubar), sisanya di area Maruwai, Kalimantan Tengah. "Perusahaan ini menjadi agen pemasaran eksklusif bagi PT Arutmin Indonesia di Kalsel," terang Andrew, ketika bertemu wartawan di Gedung Bina Insan, Samarinda, Senin (6/2).

Bersama sejumlah aktivis seperti Kahar Al Bahri dari Jatam Kaltim dan Carolus Tuah dari Pokja 30, Andrew memaparkan, pada 2009 BHP membentuk usaha patungan dengan PT Adaro Energy Tbk. Joint venture itu menggarap proyek tambang di Indonesia. Khusus Kalimantan, konsesi mereka diduga kuat mencaplok kawasan Heart of Borneo.

Masih dari laporan BHP Billiton, mereka siap menggelontorkan USD 100 juta (sekitar Rp 900 miliar) untuk memulai investasi tersebut pada 2014. Angka itu disebut "kecil" sebab laba sebelum pajak BHP Billiton (dari seluruh tambang di dunia) adalah USD 32 miliar (Rp 256 triliun) per tahun. Sementara deposit batu bara termal di tujuh konsesinya tadi paling kurang 775 juta ton atau 15 kali produksi tahunan KPC yang 48 juta ton.

Andrew mengatakan, dia belum mengetahui adanya hubungan antara rencana eksploitasi di pelosok Kalimantan tadi dengan rencana pembangunan rel kereta api dari Rusia. Baru-baru ini, melalui Kalimantan Railways, investor dari Negeri Beruang Merah siap membangun rel kereta api Kalteng-Kutai Barat-Balikpapan sepanjang 285 kilometer. "Tapi melihat skemanya, sudah jelas rel itu digunakan untuk pengangkutan sumber daya alam," jelas pria asal London yang menetap di Indonesia sejak 2005 ini.

Rel kereta api ini juga masuk dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Investor asal Rusia yang mendapat penolakan dari Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang itu pertama kali melontarkan rencananya kepada Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa yang terlibat langsung dalam MP3EI.

Kembali ke BHP Billiton, Andrew mengatakan, batu bara dari jantung Kalimantan kemungkinan besar diangkut melalui darat menuju Sungai Mahakam di Kubar. "Kemungkinan besar titiknya di sekitar Long Bagun," jelas Merah Johansyah Ismail dari Jatam Kaltim. Belum lama ini dia datang ke perkampungan di Kalteng yang masuk konsesi BHP Billiton.

Sebagai perusahaan yang sangat besar, Andrew mengatakan, BHP Billiton memiliki kemampuan keuangan yang hampir tidak terbatas. Itu membuat mereka dengan mudah bisa dekat dengan penguasa dan mendapatkan perizinan.

"Sudah hampir dipastikan, mereka hanya mencari keuntungan. Di Bursa Efek London, hanya uang yang berbicara. Kearifan lokal, masyarakat, dan dampak lingkungan tidak banyak berpengaruh terhadap saham. Mereka sangat kuat sekali," jelas Andrew.

Pada 2010, Kahar Al Bahri dan Siti Mutmainah dari Jatam, ditemani Andrew, datang ke London dan sempat mengikuti pertemuan umum tahunan BHP Billiton. Kepada mereka, Marius Kloppers, CEO BHP, mengatakan perusahaan tidak berupaya mengubah batas hutan lindung Kalimantan maupun menambang terbuka di dalamnya. "Itu bukan jawaban yang memuaskan," sebut Andrew.

Dengan konsesi seluas itu, para aktivis mengkhawatirkan keberadaan masyarakat lokal yang pasti tergusur. Menurut Ocha, sapaan Kahar Al Bahri, kongsi antara perusahaan asing dan nasional memakai strategi baru untuk mendekati pemilik lahan. Mereka menggunakan cara-cara baru yaitu "berpura-pura" aktif dalam kegiatan konservasi seperti REDD dan Heart of Borneo.

"Jika eksploitasi besar-besaran itu dimulai tahun depan, maka bersiaplah jantung Borneo benar-benar habis digali," tutup Ocha.
sumber

komen TS : semoga positifnya lebih banyak ketimbang hancurnya :p

mosnteruhuy 07 Feb, 2012

Admin 07 Feb, 2012


-
Source: http://situs-berita-terbaru.blogspot.com/2012/02/raksasa-batu-bara-incar-kaltim.html
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com

No comments:

Post a Comment